Pakaian Adat Sunda

Suku Sunda merupakan salah satu suku yang mendominasi keragaman budaya yang ada di Jawa Barat, termasuk pakaian adat.

Secara geografis, wilayah Sunda terletak di Pulau Jawa sebelah barat, yang berbatasan dengan provinsi Banten dan DKI Jakarta.

Daftar Pakaian Adat Sunda

Daftar Pakaian Adat Sunda

Pakaian adat Sunda tidak dapat terlepas dari yang namanya unsur sejarah. Pasalnya pakaian adat ini dibedakan menjadi 3 jenis sesuai dengan tingkatan sosial masyarakatnya.

3 jenis pakaian adat sesuai dengan tingkat sosial tersebut adalah sebagai berikut :

  • Pakaian adat untuk bangsawan.
  • Pakaian adat untuk kaum menengah.
  • Pakaian adat untuk rakyat biasa.

Ke-3 jenis pakaian adat tersebut sudah dikenal oleh masyarakat sejak zaman dahulu dan sampai sekarang masih tetap lestari.

Namun untuk sekarang pengelompokan pakaian adat berdasarkan pada tingkatan sosial di masyarakat tersebut sudah tidak relevan lagi.

Pasalnya sekarang kita lebih mengenal jenis dan nama – nama pakaian adat berdasarkan fungsi dan tujuan pakainya.

Berikut adalah beberapa pakaian adat Sunda yang wajib anda ketahui :

1. Pangsi

Pakaian Adat Banten (Pangsi)

Pangsi merupakan setelan pakaian berupa baju kemeja polos dan celana yang longgar.

Celana longgar ini memiliki panjang yang tidak melebihi mata kaki dan biasanya berwarna hitam serta dilengkapi dengan kulit maupun kain ikat.

Pakaian adat ini sangat sederhana dan terkesan usang serta kumal. Pasalnya pakaian ini dipakai oleh laki – laki dari rakyat biasa.

Yang memakai baju pangsi ini biasanya kebanyakan berprofesi sebagai petani maupun buruh.

Akan tetapi saat ini, pangsi juga dipakai oleh kaum kalangan atas dengan bentuk yang lebih bagus dan pilihan kain yang lebih bagus pula.

Atasan dari pangsi ini berupa baju kemeja polos yang dinamakan dengan baju salontreng.

Baju salontreng ini merupakan baju dengan model jahitan yang sederhana dan identik dengan warna hitam.

Biasanya dipadukan dengan sarung poleng yang diselampirkan menyilang ke badan.

Dalam pemakaiannya pangsi juga dilengkapi dengan penutup kepala yang bernama ikat logen dan alas kaki berupa tarumpah (terompah kayu).

2. Kebaya Sunda

Kebaya Sunda Jawa Barat

Kebaya sunda biasanya memiliki warna – warna yang cerah, seperti putih, merah marun, dan ungu muda.

Kebaya sunda ini hampir sama dengan kebaya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Perbedaannya terdapat pada bentuk bagian lehernya.

Bagian bawahnya berupa kain jarik yang disebut dengan sarung kebat atau sinjang bundel.

Sarung kebat atau sinjang bundel tersebut dihiasi dengan motif batik yang bermacam – macam khas Sunda.

Dan tidak lupa memakai aksesoris seperti tusuk konde, giwang, kalung, gelang, cincin, ikat pinggang (beubeur), kamisol, sendal jepit keteplek, dan aksesoris lainnya.

Kebaya Sunda ini merupakan pakaian adat yang dipakai oleh rakyat biasa hingga kaum menengah.

Meskipun sama – sama menggunakan kebaya, namun jika corak dan bahannya berbeda maka itu tetap menjadi penanda status sosial seseorang yang ada di Sunda.

3. Bedahan

Bedahan

Bedahan adalah pakaian adat yang digunakan oleh kaum menengah di Sunda.

Kaum menengah ini bukan dari keturunan bangsawan, melainkan yang berprofesi sebagai pedagang atau saudagar.

Tampilan dan barang – barang yang dipakai pun berbeda dengan pakaian dari rakyat biasa.

Biasanya pakaian kelas menengah ini disertai dengan manik – manik dalam pemakaiannya.

Bagi wanita menggunakan kebaya yang biasanya berwarna cerah sebagai atasan. Sedangkan untuk bawahannya memakai kain kebat batik yang memiliki corak khas dari Sunda.

Dan untuk aksesorisnya menggunakan selendang berwarna, ikat pinggang yang dinamakan beubeur, alas kaki berupa selop yang dinamakan kelom geulis, dan perhiasan berupa kalung, gelang, giwang  atau anting, dan cincin yang terbuat dari perak atau emas.

Sementara untuk pria menggunakan baju bedahan berwarna putih atau jas takwa sebagai atasannya.

Dan untuk bawahannya juga menggunakan kain kebat batik berbagai macam corak.

Tidak lupa pula disertai dengan aksesoris seperti alas kaki sandal tarumpah (terompah kayu), ikat pinggang yang dinamakan beubeur, ikat kepala, dan arloji rantai emas yang di gantungkan di saku bajunya.

4. Menak

Menak

Menak adalah pakaian adat Sunda berupa jas beludru yang disulam dengan benang emas.

Menak ini merupakan pakaian adat untuk kaum bangsawan. Sudah terbukti dari tampilannya yang terkesan sangat mewah dan sedikit menunjukkan keglamoran.

Menak ini berupa jas tutup yang dipadukan dengan celana panjang berwarna hitam disertai dengan lilitan jarit dari pinggang sampai atas lutut.

Menak juga dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris yang mendukung penampilannya semakin mewah dan glamor.

Aksesoris pendukung tersebut adalah penutup kepala, sabuk emas atau biasa disebut dengan nama Benten, dan sandal selop berwarna hitam pula.

Dan untuk pasangan wanitanya juga menggunakan kebaya dengan baju berbahan beludru yang disulam dengan tambahan manik – manik dan berwarna hitam.

Untuk bawahannya menggunakan jarit bermotif sama dengan yang digunakan si pria atau bermotif rereng sebagai bangsawan.

Tidak lupa pula dilengkapi dengan berbagai macam aksesoris untuk mendukung penam seperti sanggul rambut (konde), tusuk konde, bros, peniti rantai, cincin, dan perhiasan dari berlian ataupun emas.

5. Beskap

Beskap

Beskap adalah pakaian adat untuk laki – laki dari Sunda yang hanya digunakan untuk acara resmi saja.

Pakaian adat sunda untuk acara resmi ini hampir sama dengan pakaian adat untuk kaum bangsawan.

Beskap ini berupa kemeja yang memang di design untuk digunakan pada acara – acara resmi dan penting saja.

Beskap memiliki warna yang sangat beragam, namun biasanya identik dengan warna gelam dan selalu polos.

Tekstur dari beskap ini tebal disertai dengan kerah baju yang tidak memiliki lipatan.

Pakaian adat ini memiliki perbedaan ukuran potongan pada bagian depan yang tidak simentris.

Tujuan dari ketidaksimetrisan tersebut adalah untuk antisipasi pemakaian aksesoris keris yang mungkin cukup berat.

Pola kancing dari beskap ini dapat dibilang cukup unik, pasalnya bentuk dari kancingnya menyamping.

Biasanya beskap dipadupadankan dengan jarik yang memiliki corak khas Sunda yang digunakan untuk menutupi kaki.

Tidak lupa juga memakai kain samping di pinggang, bendo sebagai penutup kepala, dan juga sendal selop, serta jam rantai berwarna emas.

6. Pakaian Adat Sunda Untuk Pernikahan

Pakaian Adat Sunda Untuk Pernikahan

Pakaian adat Sunda untuk pernikahan ini terbagi menjadi 3 jenis, yaitu tata busana pengantin putri, tata busana pengantin singer, dan tata busa pengantin sukapura.

Ketiganya memiliki perbedaan yang dapat dilihat dari detail pakaian dan dandanan yang digunakan.

Dan yang paling dapat dilihat secara sekilas adalah bentuk konde, detail hiasan pada pakaian, serta aksesoris yang terpasang.

Biasanya para wanita menggunakan kebaya khusus pengantin yang biasanya memiliki ciri khas yang menarik dan modern.

Modern di sini maksudnya memodifikasi kebaya sunda tanpa menghilangkan kesan dan nilai adat di dalamnya.

Bahan dari kebaya ini adalah broklat dengan warna yang cerah dan kalem.

Dan untuk bawahannya menggunakan kain batik kebat Lereng Eneng Prada. Pakaian tersebut terispirasi dari busana putri di masa Kerajaan Sunda zaman dulu.

Dalam pemakaiannya kebaya pengantin ini pasti disertai aksesoris berupa permata, gelang, cincin, dan 2 kalung (pendek dan panjang) yang dipakai secara bersamaan.

Dan dibagian kepalanya rata – rata menggunakan sejenis mahkota perhiasan yang dinamakan Siger.

Siger ini memiliki makna yaitu sebagai perlambang kehormatan dan sifat bijak.

Sedangkan untuk pengantin prianya mengenakan Jas Buka Prangwedana yang warnanya biasanya disesuaikan dengan warna kebaya pengantin wanita.

Begitupun dengan kain batik yang dipakai, supaya selaras maka harus disamakan warnanya dengan pengantin wanita.

Pemakaian baju untuk pria disertai dengan penutup kepala atau bendo dengan hiasan permata dan Boro Sarangka, yakni sejenis kantong atau tempat untuk menyimpan keris.

Info: Untuk menghadiri pernikahan adat sunda, sangat cocok jika kita menggunakan pakaian muslimah dari Gudang Online Nibras

7. Mojang Jejaka

Mojang Jajaka

Seperti namanya mojang jajaka adalah pakaian adat yang dipakai oleh wanita dan laki – laki.

Pakaian untuk wanita berupa kebaya dengan warna polos yang dipadukan dengan kain kebat untuk bawahannya.

Dalam pemakaiannya disertai dengan selendang atau karembong dan ikat pinggang yang dinamakan beubeur.

Beubeur berfungsi untuk mengencangkan penggunaan kain agar tidak jatuh.

Dan untuk alas kakinya menggunakan sandal selop yang memiliki warna sama dengan baju kebayanya.

Untuk mendukung penampilannya, tidak lupa juga mengemakan aksesoris seperti  sanggul untuk rambut, cincin, kalung, bros, gelang, peniti rantai, dan perhiasan lainnya yang dirasa cocok dan bagus.

Sedangkan untuk laki – laki berupa beskap atau jas tertutup sebagai atasannya dan celana panjang sebagai bawahannya. Biasanya berwarna hitam atau dapat juga warna yang lain.

Pemakaiannya disertai dengan penutup kepala atau bendo dan sendal selop sebagai alas kaki.

Tidak lupa pula ditambah dengan aksesoris berupa jam yang dipasangkan dengan cara dijepit di saku jas atas sebelah kiri untuk mendukung penampilannya.

Keunikan Pakaian Adat Sunda

Keunikan Pakaian Adat Sunda

Pakaian adat Sunda memiliki beberapa keunikan, diantaranya adalah sebagai berikut ini :

1. Jenis Pakaian Berdasarkan Status Sosial

Status sosial yang dapat dibedakan hanya dengan penggunaan pakaian adat saja merupakan salah satu keunikan dari Suku Sunda ini.

Bahkan hal ini berlaku untuk semua golongan mulai dari anak – anak, pemuda, dewasa, orang tua, sampai nenek – nenek.

2. Celana sampai Betis

Panjang dari celana laki – laki adat Sunda ini cukup unik, pasalnya panjang dari celana hanya sampai betis saja dan berbentuk komprang. Namun ada juga yang bercelana panjang.

3. Pakaian Adat Perempuan Terkesan Sederhana

Pakaian adat untuk perempuan Sunda terkesan sederhana. Pasalnya mereka hanya menggunakan kain batik untuk bawahan.

4. Terdapat Pakaian Adat Modern

Seiring dengan berjalannya waktu banyak ditemukan pakaian adat Sunda yang sudah di poles dengan sentuhan modern.

Artinya, kesan klasik dari sebuah pakaian adat sudah mulai memudar, hanya saja esensinya tetap dikenal sebagai pakaian adat.

Namun pakaian adat modern ini tetap mementingkan nilai – nilai budaya yang ada.

5. Keris

Keris adalah aksesoris pendukung yang biasanya digunakan oleh laki – laki saat sedang melaksanakan pernikahannya sebagai pelengkap dari pakaian adat Sunda.

6. Bendo

Bendo adalah penutup kepala yang sering digunakan oleh laki – laki dalam pemakaian pakaian adat Sunda.

7. Beubeur

Beubeur adalah ikat pinggang yang sering digunakan oleh para wanita dalam pemakaian pakaian adat Sunda.

Beubeur terbuat dari kain kebat yang digunakan untuk mendukung penampilan dari wanita tersebut.

8. Mahkota

Mahkota atau siger adalah aksesoris pendukung yang biasanya digunakan oleh perempuan saat sedang melaksanakan pernikahannya sebagai pelengkap dari pakaian adat Sunda.

9. Kelom Geulis

Kelom geulis adalah sandal yang digunakan perempuan sebagai alas kaki dari pakaian adat Sunda.

Kesimpulan

Pakaian adat Sunda dapat menunjukkan status sosial bagi pemakainya. Dengan demikian jenis baju yang digunakan tentu memiliki berbagai nilai estetika.

Pakaian adat Sunda juga memiliki berbagai macam keunikan yang tentunya tidak dimiliki oleh pakaian adat dari provinsi lain.

Photo of author

Ahmad

Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama

Tinggalkan komentar

Rumah Adat Sunda

Suku Sunda ternyata juga memiliki beberapa rumah adat yang dulunya mereka gunakan sebagai tempat tinggal dan lainnya.

Rumah adat suku Sunda pada umumnya terbuat dari bahan dasar bambu dan kayu.

Pada umumnya rumah adat Sunda dibuat dengan gaya arsitektur rumah panggung untuk menghindari hewan buas dan banjir.

Selain itu, kolong dari rumah panggung juga biasa dimanfaatkan sebagai tempat untuk beternak ayam dan menyimpan berbagai alat pertanian.

Keunikan Rumah Adat Sunda

Keunikan Rumah Adat Sunda

Setiap rumah adat di Indonesia tentu memiliki keunikan masing-masing, tidak terkecuali rumah adat suku Sunda.

Berikut ini beberapa keunikan yang membuat rumah tradisional suku Sunda mampu menarik wisatawan lokal dan mancanegara.

1. Posisi Bangunan

Rumah tradisional dibangun dengan posisi yang cukup unik, dimana rumah adat tersebut dibangun dengan posisi menghadap ke arah matahari terbenam atau terbit.

Karena suku Sunda sendiri memegang filosofi bahwa arah matahari terbenam dan terbit merupakan arah yang baik dan merupakan salah satu kuasa dari Tuhan.

Hal tersebut mengingat bahwa arah kiblat memang sesuai dengan arah matahari terbenam.

Oleh karenanya setiap rumah hanya boleh dibuat dengan posisi menghadap ke arah Barat dan Timur.

2. Pondasi Bangunan

Keunikan lain dari bangunan rumah tradisional suku Sunda yaitu pada bagian pondasinya.

Dimana dibagian sudut bawah rumah terdapat pondasi dengan fungsi untuk menghindari banjir dan gempa bumi.

3. Dinding Bangunan

Lalu pada bagian dinding rumah tradisional suku Sunda ini terbuat dari bambu dianyam yang memiliki lubang-lubang kecil.

Lubang-lubang kecil tersebut berfungsi untuk menjadi jalan udara masuk dan keluar.

Selain pada bagian dinding, bambu juga digunakan pada bagian daun pintu dan juga daun telinga.

4. Lantai Bangunan

Keunikan selanjutnya yaitu terdapat pada lantai bangunan yang digunakan.

Dimana rumah tradisional ini memiliki lantai berbahan dasar bambu yang sudah dibelah atau yang biasa disebut dengan pelupuh.

Penggunaan bambu sebagai bahan dasar bertujuan agar sirkulasi pada rumah tersebut bisa keluar dan masuk dengan baik.

Selain itu, dengan lantai bambu juga berfungsi untuk menjaga kelembapan di dalam rumah.

5. Plafon Bangunan

Keunikan bangunan rumah tradisional Sunda yang terakhir yaitu pada bagian plafon rumah yang juga terbuat dari susunan bambu.

Kerangka plafon tersebut terbuat dari bambu yang masih utuh agar nantinya bisa digunakan sebagai tempat untuk menyimpan beberapa barang.

Daftar Rumah Adat Sunda

Daftar Rumah Adat Sunda

Rumah adat Sunda memiliki beberapa jenis dengan gaya arsitektur, filosofi, dan fungsi yang berbeda-beda.

Rumah adat tersebut diantaranya yaitu Badak Heuay, Parahu Kamureb, Tagog Anjing, Jolopong, Julang Ngapak, Jubleg Nangkub, Capit Gunting, dan Buka Pongpok.

1. Rumah Adat Julang Ngapak

rumah adat julang ngapak

Rumah adat Sunda yang pertama yaitu rumah adat Julang Ngapak, yang mana Julang Ngapak memiliki arti sebagai burung yang sedang mengepakkan sayapnya.

Hal tersebut bisa dilihat dari posisi atap rumah yang cenderung lebih melebar ke sisi samping layaknya burung yang sedang membuka sayapnya.

Atap rumah tradisional tersebut terbuat dari bahan dasar berupa alang-alang, ijuk, dan daun rumbia.

Semua bahan tersebut kemudian dikumpulkan dan disatukan menjadi sebuah kerangka atap.

Meski menggunakan bahan yang terbilang sangat sederhana, namun rumah tersebut tetap aman dari bocor saat sedang hujan.

Pada bagian atap tersebut juga terdapat pelengkap yang memiliki bentuk cagak gunting (capit hurang).

Dimana pelengkap tersebut berfungsi sebagai antisipasi agar air tidak merembes ke dalam rumah.

Sedangkan untuk menopang kerangka atap tersebut, suku Sunda memilih menggunakan bambu yang telah di sirih menjadi empat bagian.

Rumah adat Julang Ngapak ini masih dapat ditemukan di berbagai kampung adat yang ada di daerah Kuningan dan Tasikmalaya.

2. Rumah Adat Badak Heuay

rumah adat badak heuay

Rumah tradisional suku Sunda selanjutnya yaitu rumah adat Badak Heuay.

Rumah adat Badak Heuay sendiri jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia berarti Badak Menguap.

Nama tersebut dipilih karena rumah adat ini memiliki bentuk atap yang terlihat seperti badak yang sedang menguap.

Pada mulanya, rumah adat ini terbuat dari bahan dasar kayu dan tanah liat sebagai gentengnya.

Atap rumah adat Badak Heuay terbagi menjadi dua jenis atap yaitu atap besar dan atap kecil.

Dimana atap besar berguna untuk menaungi rumah bagian belakang, sementara atap kecil berguna untuk menaungi bagian depan.

Dimana bagian depan rumah adat Badak Heuay biasa digunakan sebagai tempat untuk menerima tamu laki-laki.

Rumah adat ini masih bisa ditemukan di daerah Sukabumi, Jawa Barat.

3. Rumah Adat Jolopong

rumah adat jolopong

Rumah tradisional suku Sunda berikutnya yaitu Jolopong, dimana rumah adat ini masih sangat mudah ditemukan di daerah pedesaan.

Rumah adat Jolopong memiliki bentuk atap seperti pelana yang memanjang.

Atap tersebut terbagi menjadi dua bagian, dimana kedua bagian atap dipisahkan oleh jalur suhunan di tengah bangunan rumah.

Batang suhunan tersebut memiliki panjang yang sejajar dengan kedua sisi bawah bidang atap.

Sementara yang lainnya berbentuk lebih pendek dan memotong tegak lurus pada ujung suhunan tersebut.

Selain itu, rumah ini juga hanya terdiri dari beberapa ruangan saja, seperti emper (teras), tengah imah (ruang tengah), pankeh (kamar), serta pawon (dapur).

Selain itu, di dalam rumah in juga terdapat ruangan bernama padaringan yang berguna sebagai tempat untuk menyimpan beras.

Dan terdapat satu ruang lagi bernama tepas, dimana ruangan tersebut digunakan untuk menerima tamu.

Rumah adat Jolopong masih bisa ditemukan dengan mudah di daerah perdesaan Garut, tepatnya di Kampung Dukuh.

4. Rumah Adat Capit Gunting

rumah adat jawa barat capit gunting

Sesuai dengan namanya, rumah adat Capit Gunting memang memiliki bentuk atap yang mirip dengan gunting.

Dimana dibagian ujung atap terdapat sebuah ornamen berbentuk X yang terbuat dari kayu atau bambu.

Secara keseluruhan, rumah adat Capit Gunting berbentuk persegi yang memanjang ke belakang.

Rumah adat Capit Gunting terdiri dari beberapa ruangan, seperti ruang tengah, teras, kamar tidur, dan dapur.

Selain itu, terdapat juga ruangan untuk menyimpan beras yang biasa disebut dengan padaringan, dan ruangan untuk menerima tamu atau tepas.

5. Rumah Adat Tagog Anjing

rumah adat jawa barat tagok anjing

Rumah tradisional suku Sunda selanjutnya yaitu rumah adat Tagog Anjing, dimana jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia berarti anjing duduk.

Rumah adat ini memiliki bentuk atap segitiga dengan atap yang lain menghadap ke arah depan, yang mana membuat rumah ini terlihat seperti anjing yang sedang duduk.

Atap tersebut menyatu dengan rumah yang berbentuk persegi panjang dan memanjang ke belakang.

Lalu pada bagian teras terdapat sorondoy (atap yang menyambung) dimana atap tersebut berguna untuk melindungi dari sinar matahari secara langsung.

Rumah adat Tagog Anjing termasuk kedalam rumah panggung namun pondasi yang digunakan tidak terlalu tinggi.

Rumah adat Tagog Anjing ini masih bisa ditemui di daerah Garut, Jawa Barat.

6. Rumah Adat Parahu Kamureb

imah parahu kumureb

Rumah adat Parahu Kamureb jika dilihat bangunannya, rumah ini memiliki bentuk yang menyerupai perahu terbalik.

Karena memang, secara harafiah parahu kamureb memiliki arti perahu yang terbalik.

Rumah adat Parahu Kamureb terdiri dari empat bagian utama, dimana dua bagian yang ada di depan dan belakang berbentuk trapesium sama kaki.

Lalu dua bagian lain yang terdapat di bagian kanan dan kiri, memiliki bentuk segitiga.

Struktur bangunan pada bagian depan biasanya dibuat sedikit agak menjorok ke dalam guna untuk membuat tambahan teras.

Selain itu, biasanya masyarakat Sunda juga akan membuat temoat duduk yang terbuat dari bambu atau yang biasa disebut dengan Golodog.

Meski bentuknya sangat unik, namun rumah adat Parahu Kamureb memiliki kekurangan yaitu rawan bocor saat musim penghujan datang.

Hal tersebut dikarenakan bagian atap rumah adat ini memiliki banyak sambungan.

Bentuk rumah adat Parahu Kamureb masih bisa dijumpai di daerah Ciamis, Garut, dan Tasikmalaya.

7. Rumah Adat Buka Pongpok

Rumah Adat Buka Pongpok

Rumah adat suku Sunda selanjutnya yaitu rumah adat Buka Pongpok.

Rumah adat ini dinamakan rumah adat Buka Pongpok karena memiliki bentuk pintu masuk yang sejajar dengan salah satu ujung atap (suhunan).

Jika dilihat dari bagian depan, seluruh bagian atap dari rumah ini tidak kelihatan dan yang terlihat hanyalah segitiga dari bentuk rumah tersebut.

8. Rumah Adat Jubleg Nangkub

Rumah Adat Jubleg Nangkub

Rumah adat suku Sunda yang terakhir yaitu rumah adat Jubleg Nangkub.

Jika dilihat secara sekilas, rumah adat ini terlihat mirip dengan rumah adat Parahu Kamureb.

Secara harfiah, rumah adat ini memiliki makna lesung (alat menumbuk padi) yang menelungkup.

Rumah adat Jubleg Nangkub merupakan sebuah simbol kepribadian masyarakat yang sopan, ramah, dan bersahaja.

Selain itu, rumah ini juga melambangkan tanah yang subur, indah, dan makmur.

Kesimpulan

Terdapat 8 rumah adat Sunda yang masing-masing memiliki ciri khas, gaya arsitektur, filosofi, keunikan, dan fungsi yang berbeda-beda.

Delapan rumah adat Sunda tersebut yaitu rumah adat Jubleg Nangkub, rumah adat Buka Pongpok, rumah adat Parahu Kamureb, rumah adat Tagog Anjing, rumah adat Capit Gunting, rumah adat Jolopong, rumah adat Badak Heuay, dan rumah adat Julang Ngapak.

Photo of author

Ahmad

Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama

Tinggalkan komentar