Rumah Adat Jawa Tengah

Jawa Tengah adalah salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki berbagai rumah adat yang menarik.

Setiap rumah adat Indonesia yang ada di provinsi Jawa Tengah mengandung filosofi, kegunaan, dan manfaat yang berbeda-beda.

Meski di Jawa Tengah terdapat beberapa rumah adat, tapi yang paling di kenal adalah oleh masyarakat luar adalah rumah Joglo.

Padahal, rumah adat selain rumah Joglo beragam dan mempunyai berbagai keunikan tersendiri.

Sejarah Rumah Adat Jawa Tengah

Sejarah Rumah Adat Jawa Tengah

Jawa Tengah sendiri dibentuk sebagai provinsi pada zaman Hindia Belanda, tepatnya di tahun 1905.

Pada masa tersebut, rumah adat digunakan sebagai status sosial masyarakat.

Oleh karena itu, masyarakat yang memiliki status sosial tinggi biasanya akan membuat rumah adat Joglo yang biasanya hanya bisa dibangun oleh kalangan kerajaan dan bangsawan saja.

Karena memang untuk membuat rumah adat Joglo sendiri membutuhkan biaya yang besar untuk mendapatkan materialnya.

Dikarenakan pembuatannya yang mahal, masyarakat dengan status sosial rendah lebih memilih untuk membuat rumah tradisional lain.

Rumah tradisional tersebut diantaranya adalah rumah Limasan, rumah Tajug, rumah Kampung, dan rumah Panggang Pe.

Dengan seiring berjalannya waktu, sekarang ini rumah Joglo sudah bisa dibangun oleh berbagai kalangan dan tidak jarang digunakan sebagai gedung perkantoran dan pemerintahan.

Daftar Rumah Adat di Jawa Tengah

Daftar Rumah Adat di Jawa tengah

Secara umum, terdapat lima bangunan rumah adat yang ada di Jawa Tengah.

Setiap rumah adat tersebut, tentu saja memiliki ciri khas, filosofi,  kegunaan, keunikan, dan desain arsitekturnya masing-masing.

1. Rumah Adat Joglo

rumah adat joglo jawa tengah

Rumah adat yang pertama yaitu rumah adat Joglo yang memang sudah sangat terkenal dan menjadi ikon tersendiri bagi provinsi Jawa Tengah.

Keunikan dari rumah adat Joglo ini terletak pada desain atapnya yang tinggi dan disangga menggunakan empat tiang yang disebut dengan “soko guru”.

Jika dilihat dari bentuknya, rumah Joglo ini memang terlihat lebih besar dan megah jika dibandingkan dengan rumah adat Jawa Tengah lainnya.

Dengan ukurannya yang luas dan bentuknya yang megah, tidak heran jika rumah Joglo pada umumnya dimiliki oleh orang kalangan menegah keatas seperti bangsawan.

Fakta unik tersebutlah yang mempengaruhi mitos masyarakat Jawa Tengah bahwa rakyat jelata tidaklah pantas untuk mendirikan dan mendiami rumah Joglo.

Saking luasnya, rumah Joglo pada umumnya dibagi menjadi lima bagian berikut:

  1. Pendopo
    Bagian pertama yaitu pendopo yang mana letaknya berada di paling depan komplek rumah Joglo.
    Bangunan pendopo ini berguna untuk menyambut tamu, menggelar rapat penting, dan kegiatan sosial lainnya.
  2. Peringgitan
    Peringgitan adalah bangunan yang menghubungkan antara bangunan pendopo dengan bangunan omah.
    Selain itu, bangunan ini juga berguna sebagai tempat ringgit yang berarti wayang atau bermain wayang.
    Pada umumnya, bangunan peringgitan memiliki desain atap limasan atau kampung.
  3. Omah
    Omah adalah bangunan utama dari kompleks Joglo. Kata Omah dalam bahasa Indonesia berarti rumah.
    Pada umumnya desain bangunan Omah berbentuk persegi dengan menggunakan atap limasan atau atap joglo dengan lantai yang agak ditinggikan.
  4. Dalem
    Dalem merupakan bagian tertutup yang didalamnya dibagai menjadi beberapa ruangan.
  5. Senthong
    Senthong yaitu bgaian belakang dari rumah Joglo yang terdiri dari 3 ruangan.
    Pada umumnya ruangan bagian barat digunakan untuk menyimpan hasil panan, ruangan timur untuk menyimpan alat pertanian, dan ruangan tengah sebagai kamar pengantin baru.

2. Rumah Adat Limasan

rumah adat limasan

Rumah Limasan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang, hal tersebut terbukti dengan adanya relief yang menggambarkan keadaan kala itu.

Untuk membangun rumah Limasan juga tidak boleh sembarangan, karena rumah Limasan ini memiliki nilai filosofi yang mengandung nilai-nilai sosiokultural.

Nama Limasan diambil dari bentuk rumah yang berbentuk limas.

Rumah Limasan ini terdiri dari empat buah atap, dimana dua buah atap bernama cocor atau kejen, dan dua buah atap lainnya diberi nama bronjong.

Atap kejen memiliki bentuk segitiga sama kaki yang memiliki fungsi masing-masing, sedangkan bronjong berbentuk jajar genjang.

Rumah adat Limasan ini memiliki beberapa jenis, seperti:

  • Limasan Lambang Gantung
  • Limasan Lambang Sari
  • Limasan Gajah Ngombe
  • Limasan Trajumas
  • Limasan Semar Tinandhu
  • Limasan Lambang Gantung Rangka Kutuk Ngambang
  • Limasan Lambang Teplok

3. Rumah Adat Panggang Pe

rumah adat panggang pe

Rumah adat Jawa Tengah selanjutnya yaitu rumah adat Panggang Pe.

Rumah adat ini memiliki ciri khas yaitu terdapat empat hingga enam tiang (saka) utama.

Selain digunakan sebagai rumah, kegunaan lain dari rumah adat Panggang Pe yaitu digunakan sebagai warung, kios, atau pos jaga.

Rumah adat Panggang Pe juga memiliki beberapa jenis, diantaranya yaitu:

  • Empyak Setangkep
  • Gedhang Setangkep
  • Gedhang Salirang
  • Cere Gancet

4. Rumah Adat Tajug

rumah adat tajug

Berbeda dengan rumah adat Jawa Tengah yang lainnya, rumah adat Tajug ini berguna sebagai tempat beribadah.

Rumah adat Tajug digunakan sebagai bangunan untuk beribadah seperti masjid.

Jadi jika ada yang membuat rumah adat Tajug dan dijadikan sebagai tempat tinggal, hal tersebut tentu sangat tidak diperbolehkan.

Biasanya bangunan rumah adat ini memiliki desain atap yang berbentuk runcing seperti bujur sangkar.

5. Rumah Adat Kampung

rumah adat kampung

Rumah adat Jawa Tengah selanjutnya yaitu rumah adat Kampung yang memiliki desain bangunan paling sederhana.

Keunikan dari rumah adat ini yaitu terletak pada jumlah tiang yang digunakan, biasanya tiang yang digunakan berjumlah kelipatan 4 yang dimulai dari 8 tiang.

Tiang tersebut pada umumnya menggunakan bahan dari kayu jati, kayu nangka, ataupun kayu mahoni.

Rumah adat ini memiliki atap dengan bentuk segitiga dan menggunakan penghubung atau yang disebut dengan wuwungan atau bubungan.

Rumah adat kampung yang biasa dimiliki oleh rakyat biasa ini memiliki beberapa jenis, seperti:

  • Kampung Pokok
  • Pacul Gowang
  • Apitan
  • Dara Gepak
Info: Rata-rata warna cat rumah adat Jawa ini yaitu coklat karena menggunakan cat kayu.

Kesimpulan

Provinsi Jawa Tengah memiliki 5 rumah adat yang masing-masing rumah adat tersebut memiliki keunikan, kegunaan, filosofi, dan desain bangunan yang berbeda.

Lima rumah adat yang ada di Jawa Tengah adalah rumah adat Joglo, rumah adat Limasan, Rumah adat Tajug, rumah adat Panggang Pe, dan rumah adat Kampung.

Photo of author

Ahmad

Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama

Tinggalkan komentar

Pakaian Adat Jawa Tengah

Jawa Tengah merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki berbagai macam jenis pakaian adat.

Setiap pakaian adat memiliki karakteristik yang berbeda – beda dengan nilai seni dan budaya yang berbeda pula.

Untuk anda yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai pakaian adat Jawa Tengah ini silahkan simak artikel ini lebih lanjut

Daftar Pakaian Adat Jawa Tengah

Daftar Pakaian Adat Jawa Tengah

Provinsi Jawa Tengah dikenal sangat kental akan ragam budayanya yang masih alami dari tahun ke tahun.

Salah satu ragam budaya yang dimiliki Jawa Tengah adalah pakaian adat yang beraneka ragam.

Berikut adalah beberapa pakaian adat dari provinsi Jawa Tengah yang wajib anda ketahui :

1. Kebaya

Kebaya Jawa Tengah

Kebaya merupakan salah satu pakaian adat yang dikhususkan untuk wanita. Kebaya berasal dari Bahasa Arab abaya yang artinya pakaian.

Kebaya ini biasanya dibuat dengan bahan tipis yang dipadukan dengan kain batik, songket, dan sarung.

Kebaya Jawa Tengah ini memiliki ciri khas tersendiri, biasanya berwarna hitam dan keemasan. Kebaya ini dipadukan dengan jarit bercorak batik khas Jawa.

Bahan batik yang digunakan pun terkenal dengan batik asli yang ditulis secara manual dan bukan merupakan batik yang menggunakan cap seperti jaman modern ini.

Memakai kebaya harus lengkap dengan atribut – atributnya. Berikut adalah kelengkapan dari kebaya :

  1. Pakaian atasan berupa kebaya, kemben, kain tapih pinjung, dan stagen.
  2. Bawahannya berupa kain jarik berbagai corak khas Jawa Tengah.
  3. Konde yang dihias dengan bunga melati pada bagian atasnya.
  4. Berbagai macam aksesoris tambahan seperti cincin, kalung, gelang, subang, dan kipas.

Pemakaian kebaya ini harus diatur sedemikian rupa yang disesuaikan dengan status sosial orang tersebut.

Seiring berjalannya waktu, kebaya tak pernah kehilangan peminat. Kebaya menjadi saksi dari perkembangan Indonesia sejak zaman dahulu hingga sekarang.

Pasalnya kebaya ini terus mengikuti perkembangan jaman dari tahun ke tahun. Dengan demikian kebaya dapat bertahan sampai sekarang ini.

2. Jawi Jangkep

Jawi Jangkep

Jawi Jangkep merupakan salah satu pakaian adat yang dikhususkan untuk pria.  Jawi Jangkep ini terdiri dari 2 jenis yaitu :

  1. Jawi Jangkep, jawi jangkep ini digunakan pada saat acara formal dan resmi saja dengan menggunakan atasan berwarna hitam.
  2. Jawi Jangkep Padintenan, jawi jangkep padintenan ini dapat digunakan dalam kegiatan sehari – hari dengan menggunakan atasan berwarna selain hitam.

Memakai jawi jangkep harus lengkap dengan atribut – atributnya. Berikut adalah kelengkapan dari jawi jangkep :

  1. Pakaian atasan yang berupa baju beskap yang biasanya memiliki motif bunga dengan bagian belakang yang jauh lebih pendek.
  2. Bawahan berupa kain jarik yang dililitkan pada ikat pinggang yang tersedia.
  3. Penutup kepala berupa blankon atau destar.
  4. Stagen.
  5. Keris atau wangkingan.
  6. Ikat pinggang berupa timang, lerep, dan epek.
  7. Alas kaki berupa sendal selop atau canilan berwarna senada dengan warna pakaiannya.
  8. Bunga melati yang dililitkan di bagian leher.

Pakaian adat satu ini masih sangat dijaga kelestariannya. Bahkan pada acara – acara tertentu banyak yang masih menggunakan Jawi Jangkep ini.

3. Kanigaran

Kanigaran

Kanigaran merupakan salah satu pakaian adat yang diperuntukkan untuk para golongan bangsawan yang terbuat dari beludru. Biasanya kanigaran berwarna hitam.

Pemakaian dari kanigaran ini dilengkapi dengan kain dodot atau kampuh sebagai bawahannya.

Pakaian adat ini juga paling sering dipilih oleh para calon pengantin. Pasalnya kanigaran memiliki nilai dan makna yang sangat tinggi dan kental.

Kanigaran ini sendiri merujuk pada dandanan khusus pengantin dari keluarga kerajaan di Kesultanan Ngayogyakarta yang disebut paes ageng kanigaran.

Riasan ini dipersilakan untuk dipakai oleh masyarakat umum pada masa pemerintahan Sultan HB IX.

Namun si perias harus sudah tahu dan terlatih dalam melakukan riasan tersebut. Perias juga harus tahu cara memakai dan apa saja aksesoris yang harus dipakai.

Pasalnya kanigaran ini memiliki aturan khusus tersendiri yang harus dilaksanakan oleh para perias.

4. Basahan

Basahan

Basahan adalah pakaian adat yang digunakan oleh pengantin wanita. Basahan ini berasal dari warisan kebudayaan Mataram.

Sama halnya dengan kanigaran, basahan juga merujuk pada dandanan khusus pengantin dari keluarga kerajaan di Kesultanan Ngayogyakarta yang disebut paes ageng kanigaran.

5. Surjan

Surjan

Surjan merupakan pakaian adat dari Jawa Tengah yang berupa kemeja atasan. Sama halnya dengan jawi jangkep, surjan juga pakaian yang dikhususkan untuk pria.

Surjan ini berlengan panjang dengan kerah tegak dan terbuat dari kain bermotif lurik atau bunga.

Menurut sejarah, surjan sudah ada sejak zaman Mataram Islam yang diciptakan pertama kali oleh Sunan Kalijaga.

Surjan memiliki beberapa kancing yang terpasang di bagian kerah, dada kiri dan kanan, serta dada dekat perut yang memiliki jumlah kancing berbeda di setiap tempat.

Jumlah kancing tersebut memiliki makna tersendiri, yaitu :

  1. Di bagian kerah terdapat 6 buah kancing yang dapat melambangkan 6 rukun iman.
  2. Di bagian dada kiri dan kanan terdapat 2 buah kancing yang dapat melambangkan 2 kalimat Syahadat.
  3. Di bagian dada dekat perut terdapat 3 buah kancing yang dapat melambangkan nafsu manusia yang harus dikendalikan.

Pemakaian surjan dulunya terbatas pada bangsawan dan para abdi keraton. Namun saat ini surjan banyak digunakan oleh rakyat biasa.

6. Beskap

Beskap Jawa Tengah

Beskap adalah pakaian adat untuk laki – laki dari Jawa Tengah yang mulanya merupakan bagian dari jawi jangkep.

Namun seiring perkembangan jaman beskap dan jawi jangkep sering dikenakan secara terpisah.

Beskap memiliki warna yang sangat beragam, namun biasanya identik dengan warna gelap dan selalu polos.

Tekstur dari beskap ini tebal disertai dengan kerah baju yang tidak memiliki lipatan. Pakaian adat ini memiliki perbedaan ukuran potongan pada bagian depan yang tidak simentris.

Tujuan dari ketidaksimetrisan tersebut adalah untuk antisipasi pemakaian aksesoris keris yang mungkin cukup berat.

Kancing pada beskap terletak pada sisi kanan dan kiri dengan pola yang dapat dibilang cukup unik yaitu menyamping.

Biasanya beskap dipadupadankan dengan jarik yang memiliki corak khas Jawa Barat yang digunakan untuk menutupi kaki.

Terdapat 4 jenis beskap, yaitu :

  1. Beskap gaya Yogya, yaitu beskap yang merujuk pada pakem Keraton Kasultanan.
  2. Beskap gaya Solo, yaitu beskap yang terinspirasi dari pakem budaya Keraton Kasunanan.
  3. Beskap landung, yaitu beskap dengan bagian depan yang panjang.
  4. Beskap gaya kulon.

7. Batik

Batik

Batik adalah pakaian adat dari Jawa Tengah yang sangat mendunia. Batik ini terdiri dari berbagai macam motif.

Motif dari batik sendiri dipengaruhi oleh kondisi geografis dan budaya dari masyarakat setempat.

Batik dari daerah yang pesisir biasanya lebih dinamis dalam pemilihan corak dan warnanya dibanding dengan dari daerah yang masih terpengaruh oleh budaya keraton.

Seiring dengan perkembangan zaman, model pakaian batik pun kian beragam.

Dengan demikian banyak instansi – instansi yang menjadikan batik sebagai seragam. Mulai dari pemerintahan hingga instansi pendidikan sekalipun.

Bangga dengan budaya dalam negeri bukan berarti akan tertinggal dengan persaingan global yang ada.

Info: Semakin berkembangnya zaman, model baju batik juga semakin beragam

8. Jarik

Jarik

Jarik merupakan sebuah kain yang bermotifkan batik dengan berbagai corak khas dari Jawa Tengah.

Bagi masyarakat Jawa Tengah, jarik memiliki filosofi tersendiri yaitu sebuah tingkatan dalam hidup.

Pada jaman dahulu jarik ini digunakan oleh pria maupun wanita untuk kegiatan sehari – hari. Tapi seiring berkembangnya zaman, jarik sudah mulai di tinggalkan.

Kalaupun ada, sekarang jarik mungkin masih digunakan oleh para nenek – nenek dan pada saat acara tertentu saja.

9. Sinjang atau Dodot

Sinjang atau Dodot

Sinjang atau dodot merupakan kain katik panjang yang digunakan untuk menutup badan yang bagian bawah.

Keberadaan dari pakaian adat ini juga tidak terlalu penting namun juga dibutuhkan.

Sinjung atau dodot ini sudah jarang diketahui oleh generasi muda masa kini karena penggunaannya juga sudah jarang.

10. Kemben

Kemben

Kemben adalah salah satu pelengkap dari sebuah pakaian adat. Kemben ini digunakan untuk menutup dada seorang wanita.

Kemben terbuat dari kain panjang yang dililitkan dari daerah dada hingga sampai bawah pinggul.

Kemben tidak akan terlihat, karena pemakaiannya di dalam pakaian adat Jawa Tengah lainnya.

11. Stagen

Stagen

Stagen juga merupakan pelengkap dari sebuah pakaian adat saja. Stagen ini berupa gulungan kain yang panjang yang juga dipakai di bagian dalam.

Stagen dapat digunakan untuk menahan jarik agar tidak melorot atau jatuh dan dapat juga digunakan untuk terapi perut agar perut tidak buncit.

Saat ini stagen sudah sangat sulit ditemukan. Dengan demikian pemakaian stagen ini jadi sangat jarang dan hanya beberapa saja yang menggunakannya.

12. Kain Tapih Pinjung

Kain Tapih Pinjung

Kain tapih pinjung adalah kain yang digunakan pada bagian pinggang dengan cara melilitkannya dari kiri ke kanan mulai dari perut hingga pinggang.

Kain tapih pinjung terbuat dari kain jarik bermotif batik yang digunakan untuk menutupi stagen agar tidak terlihat.

Kain tapih pinjung ini hanya dijadikan sebagai penambah dari berpakaian adat khususnya untuk pakaian adat Jawa Tengah.

Dan tidak ada salahnya jika kita tetap membudidayakan peninggalan nenek moyang ini.

13. Blankon

Blankon

Sama halnya dengan kemben dan stagen yang hanya menjadi pelengkap, blankon juga hanya sebagai pelengkap dari sebuah pakaian adat.

Blankon sendiri adalah penutup kepala yang terbuat dari kain yang diikat. Biasanya blankon bercorak larik.

Blankon berfungsi untuk menyembunyikan rambut yang panjang. Konon katanya rambut panjang tersebut adalah aib, maka kita harus selalu menyembunyikan aib tersebut dengan blankon.

Terdapat monjolan dari kain yang dibundel pada bagian belakang blankon. Monjolan tersebut menjadi ciri khas dari blankon itu sendiri.

Terdapat pula 2 ikatan pada bagian belakang blankon yang diikat dengan kuat. Dua ikatan tersebut diibaratkan dengan dua kalimat syahadat dan diikat kuat memiliki makna bahwa seseorang harus memiliki pendirian yang kuat.

14. Kuluk

Kuluk

Kuluk juga merupakan pelengkap dari sebuah pakaian adat yang memiliki fungsi hampir sama dengan blankon yaitu menutupi kepala.

Hanya saja kuluk ini hanya digunakan oleh laki – laki pada saat acara pernikahannya.

Dahulu kuluk ini digunakan oleh banyak raja – raja untuk menghadiri berbagai upacara kerajaan.

Oleh sebab itu, kuluk ini hanya digunakan pada acara tertentu saja dan tidak semua orang bisa menggunakan pakaian adat satu ini.

15. Keris

Keris

Keris memang bukan termasuk ke dalam pakaian adat, namun keris merupakan pelengkap paling utama yang harus ada dalam pemakaian adat Jawa Tengah bagi seorang pria.

Serasa ada yang kurang jika tidak menggunakan keris sebagai hiasannya. Keris ini digunakan hanya sebagai hiasan yang diletakkan di punggung.

Karena hanya sebagai hiasan, jadi keris ini bukan keris asli dan tajam. Hanya sepotong kayu yang diukir menyerupai keris sungguhan dan dikemas dengan tempat keris sungguhan.

Keberadaan dari keris ini tentunya membuat adat jawa menjadi sangat unik. Hanya saja saat ini sudah sangat jarang untuk menemukan orang yang menggunakan pakaian surjan dan juga keris dalam kehidupan sehari – hari.

Kesimpulan

Pakaian adat Jawa Tengah terdiri dari kebaya, jawi jangkep, kanigaran, basahan, surjan, beskap, batik, jarik, sinjung atau dodot, kemben, stagen, kain tapih pinjung, blankon, kuluk, dan keris.

Baca Juga: Pakaian Adat

Sangat banyak jenis pakaian adat dari Jawa Tengah ini, maka kita sebagai masyarakat yang baik harus menjaga kekayaan yang kita miliki tersebut dan juga melestarikannya agar tidak punah.

Photo of author

Ahmad

Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama

Tinggalkan komentar

Alat Musik Tradisional Jawa Tengah

Salah satu alat musik tradisional yang sangat terkenal di nusantara maupun internasional sebagian berasal dari Jawa Tengah.

Sebenarnya bukan alat musik tradisoinal saja, ada juga adat istiadat tradisional, tarian adat tradisional, upacara adat tradisional rumah adat tradisional, musik adat tradisional, dan sebagainya.

Tetapi kali ini kita akan fokus terhadap alat musik tradisional dari Jawa Tengah saja, berikut ini pembahasannya.

Pengertian Alat Musik Tradisional

Pengertian alat musik tradisional menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah kata alat yang berarti benda yang digunakan yang berguna untuk mempermudah suatu pekerjaan atau kegiatan.

Kata musik yang berasal dari Bahasa Yunani, yaitu Mousike yang merupakan nama salah satu Dewa yang terkenal dalam mitologi Yunani kuno, Mousa adalah Dewa yang memimpin ilmu dan seni.

Lalu kata tradisional berasal dari bahasa latin, Traditio yang berarti suatu kegiatan masyarakat yang sudah dilakukan secara turun-temurun.

Oleh karena itu alat musik tradisional adalah alat musik yang yang berkembang pada suatu daerah yang dipergunakan untuk mengiringi suatu musik yang terdapat pada daerah tersebut.

Alat Musik Berdasarkan Bunyinya

Alat Musik Berdasarkan Bunyinya

1. Membranophone

Membranophone adalah jenis bunyi yang bersumber bunyinya berupa membran. Biasanya alat musik jenis ini menggunakan lapisan yang tipis lalu dibentangkan pada setiap sisinya.

Cara menggunakannya biasanya dengan cara digetarkan agar menghasilkan bunyi yang pada umumnya dengan cara dipukul. Contoh dari alat musik tersebut seperti kendang, drum, dan rebana.

2. Idiophone

Idiophone adalah jenis bunyi yang bersumber pada getaran badan alat musik tersebut sebagai sumber bunyinya.

Cara memainkannya ada berbagai cara macam seperti dipukul, ditepukkan, digoyang-goyangkan dan lain sebagainnya.

Bunyi yang dihasilkannya pun sangat bervariasi dan tergantung pada jenis bahannya. Contoh dari alat musik idiophone adalah kulintang, bel, gong, dan marakas.

3. Aerophne

Aerophne adalah jenis bunyi yang dihasilkan dari alat musik yang menggunakan sumber bunyi dari udara, alat musik jenis aerophne ini mempunyai bagian yang bersisi untuk dilewati udara.

Getaran yang dilewati oleh udarainilah yang akan menghasilkan bunyi. Alat musik aerophne biasanya memainkannya dengan cara dipompa atau ditiup.

Contoh alat musik tersebut adalah terompet, harmonika, flute, dan akordion.

4. Chordophone

Chordophone adalah alat musik yang bersumber dari bunyi berupa dawai. Chordophone menggunakan dawai yang dibentangkan antara dua titik tertentu.

Cara menggunakannya yaitu dengan cara meggetarkan dawai tersebut sehingga menghasilkan suara.

Pada umumnya alat musik tersebut mempunyai rongga resonasi pada bawah dawainya, rongga tersebut yang berguna untuk memperkuat hasil suara yang digetarkan.

Contoh dari alat musik tersebut adalah biola, gitar, piano, dan harpa.

5. Electrophone

Electrophone adalah jenis bunyi yang baru seiring munculnnya alat-alat musik modern atau elektrik.

Sesuai dengan namanya electrophone yaitu menggunakan komponen elektrik untuk sumber suarannya, baik sebagai bunyi atau pengendali yang dihasilkan secara penguat bunyi atau keseluruhannya.

Contoh alat musik tersebut adalah gitar elektrik dan keyboard.

Contoh Alat Musik Tradisional Jawa Tengah yang Terkenal

1. Siter

Siter

Alat musik tradisional yang pertama dari Jawa Tengah adalh siter, siter mempunyai bunyi yang disetel dengan nada sledro dan pelog.

Namun yang berbeda daro alat musik siter adalah satu-satunya alat yang dipetik dalam gamelan. siter mempunyai senar dari 11 dan 13 untuk dimasukan ke resonator.

Cara memainkannya yaitu dengan cara dipetik dengan ibu jari lalu jari yang lain menahan getaran dari senar yang dipetik. itu merupakansalah satu ciri khas dari intrumen gamelan.

Pada umumnya panjang dari siter yaitu 30 cm dan dimasukan kedalam yang berguna untuk resonator. Siter biasanya dimainkan dengan alat musik lainnya secara bersamaan sebagai instrumen yang memainkan cengkok.

2. Demung

Demung

Demung adalah salah satu alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Tengah dan termasuk kedalam keluarga balungan.

Dalam pagelaran musik gamelan biasanya ada dua jenis damung yaitu damung nada pelog dan damung nada slendro.

Dengan ukuran alat musik yang cukup besar tapi hasil suatranya nada oktaf yang rendah didalam alat musik balungan.

Demung terbuat dari bahan kuningan dan memukulnya menggunakan alat pemukul khusus untuk memainkannya.

Contoh pada salah satu menggambarkan suatu kondisi yaitu seperti, gendhing gati yang ditabuh dengan keras tapi lambat. Sedangkan dengan demung ditabuh dengan cepat dan keras.

3. Gong

Gong

Kita sudah tidak asing lagi dengan alat musik yang satu ini yang bernama gong.

Gong mempunyai ukuran yang cukup besar yang disusun dari berbagai ukuran dan suara yang dihasilkan oleh gong tersebut mudah untuk dikenali.

Gong adalah salah satu instrumen waditra yang terbuat dari logam kuningan atau perunggu.

Gong mempunyai diamater 69cm-105cm, biasanya di bagian atas untuk menggantungkan gong tersebut ada variasi seperti ular dan nagayang terbuat dari bahan kayu.

Dalam kesenian Betawi gong termasuk kedalam instrumen Gambang Rancag dan mengiringi tari Topeng Gong.

Cara memainkan alat musik tersebut yaitu tinggal di pukul dengan alat pemukul yang khusus di buat. Gong biasanya dipukul atau dimainkan pada saat akhir lagu.

4. Kendang

Kendang

Kendang adalah salah satu alat musik gamelan yang memiliki peranan penting dalam instrumen yaitu sebagai pengatur ritme.

Cara menggunakannya juga cukup mudah yaitu dengan cara ditabuh pada kedua bagian mengguakan tangan tanpa alat bantu lainnya. Saat ini kendang dimainkan oleh para pemain gamelan profesional.

Kendang adalah salah satu alat musik tradisional yang unik karena cara memainkannya tidak ada nada dasaranya sehingga menggunakan naluri para pemain dari kendang tersebut.

Oleh karena itu kendang bunyinnya akan berbeda-beda saat dimainkan oleh pemain yang berbeda pula dan tergantung pada nuansa yang akan dimainkan.

5. Bonang

Bonang

Bonang adalah salah satu alat musik yang terkenal didalam musik gamelan karena perannya dalam komposisi musik sebagai melodi.

Bonang mempunyai banyak variasi yang dimainkan dari kunci nadanya. Bonang mempunyai bentuk yang ada tinjolannya pada bagian atasnya yang disebut dengan pencon atau pencu.

Cara memainkannya juga cukup mudah yaitu tinggal dipukul pada bagian yang menonjol tersebut menggunakan alat khusu sehingga menghasilkan nada yang sesuai dengan jenis bonangnya. Nama alat pemukul khusus bonang adalah bindhi.

6. Slenthem

Slenthem

Slenthem adalah alat musik yang bilah-bilah logam yang digantung pada atas-atas tabungyang menghasilkan bunyi dengung rendah saat dipukul. Slenthem juga mempunyai versi slendro dan pelog.

Slenthem slendro mempunayi nada C,D,E,G,A,C. Sedangkan slenthem pelog mempunyai rentang C sampai B.

Dalam memainkan alat musim tersebut perasaan atau nalurio dari pemain dibutuhkan untuk menghasilkan dengung dan gemai yang baik.

7. Saron

Saron

Saron adalah salah satu alat musik yang termasuk kedalam keluarga alat musik balungan. Dalam pentas musik gamelan biasanya ada 4 saron yang semuanya mempunyai versi sedro dan pelog.

Alat musik tersebut mempunyai nada oktaf yang tinggi dibandingkan dengan demung yang bagian dari saron lebih kecil sedikit.

Cara menabuhnya sesuai nada, nada yang imbal atau menabuh secara begantian dari saron 1 dan saron 2. Keras lemahnya dan cepat lambatnya tergantung dari komando kendang jenis gendhingnya.

8. Gambang

Alat Musik Tradisional Jawa Tengah Gambang

Gambang adalah salah satu alat musik tradisional dari jawa tengah yang merupakan instrumen orkes kembang kromong dan gambang rancag.

Gambang mempunyai sumber nada sebanyak 20 buah yang terbuat dari bambu atau kayu.

Bentuknya dari sresonatornya mirip dengan perahu yang pada bibir kotak tersebut tampak beberapa bilah kayu nada yang berbentuk persegi empat panjang dan ripis.

Pada ujung pangkal resonator tersebiut terpancang bentuk piramid sebagai penutup bagian ujung pada pangkalnya tersebut.

Bilah dengan nada yang paling rendah bentuknya paling panjang dan lebar dan terbuat dari kayu jati. Sebaliknya dari bilah dengan nada yang tinggi mempunyai bentuk yang tebal, sempit dan pendek.

9. Suling

Alat Musik Tradisional Jawa Tengah Suling

Suling adalah salah satu alat musik yang paling populer diantaranya. Suling pada zaman dahulu terbuat dari bahan bambu, pada saat ini karena perkembangan zaman suling sudah banyak yang terbuat dari bahan perak.

Didalam instrumen musik orkessuling menjadi salah satu alat msuik yang tinggi pada nadanya. Pada umumnya suling mempunyai nada dasar yaitu C dan mempunyai jangkauan nada tiga oktaf.

10. Kempul

Alat Musik Tradisional Jawa Tengah Kempul

Kempul mempunyai bentuk yang mirip dengan alat musik gong tetapi ukurannya lebih kecil. Kempul mempunyai peranan yang sama seperti balungan.

Untuk karakter suaranya kempul menghasilkan suara yang lebih tinggi dari pada gong. karena ukurannya yang lebih kecil akan menghasilkan suara yang lebih tinggi.

Itulah pengertian lengkap tentang alat musik tradisional yang berasal dari Jawa Tengah yang sering digunakan dalam pentas seni didaerah Jawa Tengah.

Photo of author

Ahmad

Pemuda yang senang belajar dan berbagi dengan sesama

Tinggalkan komentar